Showing posts with label Diary Movie Review. Show all posts
Showing posts with label Diary Movie Review. Show all posts

Tuesday, 25 September 2012

Ted - Diary Movie Review

Seriously, semua orang pasti tahu kalau film ini ga mungkin jadi film #1
Ya, pastilah, siapa juga yang bakal bilang kalau ini film bagus. Kamu mungkin? He? Iya kah?
Semua tergolong biasa saja, dari mulai sisi komedi, drama, klimaks, adegan tegang. Everything's is flat. Statusnya cuman... hmm, okelah gw tonton kalau emang gada film lain. Dan emang saya nonton ini karena gada film lain, hahaha...

Film ini, as we know, bercerita soal persahatan John Bennett (Mark Wahbelrg) sama Tedy (bear) yang emang cuman satu-satunya didunia. Nggak seperti image Teddy Bear yang manis, ini Ted adalah beruang yg guoblokk banget, doyan ganja, doyan sex, dan doyan party, sampai2 Lori Collins (Mila Kunis) pacarnya si Ted, harus ninggalin si John karena si Ted ini.

Kalau bukan karena pemainnya yg ganteng, Mark Wahlberg, dan si cantik Mila Kunis, mungkin bakal lebih ga seru lagi ini film. Jadi cuman dua orang itu yang bikin saya tertarik buat nonton.

What do you think?



Rate 1 - 5 : 2

Saturday, 8 September 2012

Step Up Revolution - Diary Movie Review

     Siapa yang nggak muji sama gerakan-gerakan dari ide kreatif Jamal Sims, Christopher Scott, Chuck Maldonado dan Travis Wall (From : Wikipedia.org), semuanya kereeeeeeen... My favorite would be ... office-staff-ass performance, I like to call it that way since I dont know the name of that part.
     Karena film ini keluarnya deketan sama Street Dance, boleh lha ya saya banding2in sama film itu. Nggak seperti Street Dance 2, pelakon cowoknya kali ini ganteng (ketawa konyol) meskipun sama2 nggak diekspos cara pelakon utama cowok menari. Dikedua film ini, yang diekpos cara menarinya cuman cewek pelakon utama dan group, jadi bukan pelakon cowok. Soal cerita, Step Up Revolution ini payah, dan sangat mudah kebaca bagaimana endingnya. Mungkin karena terlalu fokus pada adegan dansa, hingga kualitas dramanya berkurang. Lain halnya dengan Stree Dance, dramanya dapet, dansanya juga dapet, tapi gerakan dansa emang lebih keren di Step Up ini, mungkin karena efek kuantitas penari juga ya.
     Performance klimaks dari film ini kereeen, banyak ide dimunculkan, saya juga suka pas adegan goret2 lantai sampai nimbulin percikan api (backsoundnya cocok dengan lagu Katy Perry - Fireworks, hahahaa). Tapi kalau boleh kritik sich, ini adalah performance yang terlalu banyak ide. Fokus hanya pada 2 atau 3 ide mungkin bisa menjadikan performancenya lebih terkonsentrasi (saya nggak tahu maksud saya apa, tapi semoga yang baca, ngerti. Pun kalau ada yang baca). Dibilang berantakan, nggak juga sich. Mungkin kurang terintikan ajah maksud saya, biar lebih padat dan pas.

Rate 1 - 5 : 5

Gone - Diary Movie Review

     Si mata belo Amanda Seyfried ini selalu keren, saya suka sama wajahnya yang khas. Ceritanya dia bertarung dengan situasi sulit sendiri, untuk menemukan kakak satu2nya yang diculik orang. Tonton film ini dari awal sampe hampir ke klimaks itu seru dan lumayan tegang, pas bagian klimaks, gariiiink (kecewa.com). Apa sang produser dan/atau sutradaranya kaga ngeuh gitu dengan klimaksnya yang saya bilang sich mengecewakan. Padahal karakter Amanda difilm ini keren lho. Ketegangan diklimaks cuman dikasih sedikit.
     Dan ada Wes Bentley si muka dingiiiin... perannya disini dikasih dikit doank, sangat-sangat kurang, padahal kalau dikasih lebih, bakal oke nich film, setidaknya menurut saya. Saya nonton film ini di dvd, pas awal-awal nonton sich beranggapan kalau film ini cocok ditonton di bioskop, karena lumayan tegang, tapi menjelang akhir, waduuh...untung juga nontonnya kaga dibioskop. Jadi apa harus nonton setengah dibioskop, setengah di dvd gitu?



Rate 1 - 5 : 2,5 
(boleh duuunk, pake koma)

The Four - Diary Movie Review

     Nggak kedengeran gemanya film ini, kayaknya film yang berasal dari China yang ditayangin di 21 / XXI nggak banyak diminati Orin alis Orang Indonesia (bikin singkatan seenaknya), kecualiiii...film2 yang dibintangin pemain2 terkenal, kek Chen Lung (Jackie Chan), Lee Lian Ji (Jet Li), Liu De Hua (Andy Lau), dll...baru dah diminati.
     Film ini cukup seru, nggak masalah kalau nontonnya di dvd, jadi nggak mesti dibioskop. Film ini nggak ubahnya kek film2 polisi jaman sekarang, dimana ada proses penyelidikan ala detektif, penunjukan identitas polisi ketika mau check sana-sini, dll (dan lupa lagi). Disini Collin Chou tatonya kereeeen banget, dan dia cool (pada awalnya sich), tapi begitu si Butterfly muncul, dia nggak ubahnya kek Ronald Cheng, konyol. Dan saya juga suka sama image Yi Fei Liu yang mirip banget sama Dian Sastro, cantik!
     Film, saya rasa sedikit kurang rapih ajah, ada beberapa hal yang kurang masuk akal (teknologi yang belum mungkin ada) tapi masih bisa diterima lha. Klimaks oke (sebenernya kurang tegang). Jadi mendingan nonton di dvd ajah dech, hahhahaha...

Rate 1- 5 : 2

Sunday, 19 August 2012

Street Dance 2 - Diary Movie Review

Tadinya sich mo nonton Total Recall, tapi telat. Jadinya nonton Street Dance, I said..why not (agak-agak sebelah mata gitu), tapi ternyata film ini memang layak ditonton, dan lebih bagus lagi, nontonnya dibioskop atau tv layar lebar. Sayang sich kalau nontonya cuman di dvd, karena gerakan-gerakan dance mereka emang top markotop, jadi biar lebih jelas lihatnya.

Kejutan pertama didapat dari nongolnya George_Sampson, si kurus culun yang pernah ikutan Britains Got Talent (2oo7), tapi George ini terlalu difokus pada saat dia bicara (alis cerewed), cara dia nari ga begitu disorot. Pelakon utama, Falk Hentschel, sumpah duweeeeh...menurut saya dia kagak ganteng ko, body ok sich, tapi ya itu doank. Sama ke nasibnya abank George, Falk ini rasanya ga terlalu disorot juga keahlian menarinya. Jadi film ini menyorot cara menari tim secara bersamaan ajah. Beda lagi sama Eva yang diperanin Sofia Boutella, cara dia menari bener-bener disorot, its worth, karena dia keren mampoooz..

Kerennya Sofia ini menari tentu ajah ga bakalan kerasa banget kalau bukan karena ide-ide cemerlang sang koreographe Rich - Tone Talauega dan Maykel Fonts. Gerakan-gerakan mereka diluar imajinasi saya yang notabene jelas bukan penari. Tapi kalau Anda penari, pernah kepikiran buat gerakan seperti itu?

Ini fakta, bahu saya kadang suka gerak sendiri, terhentak musik + gerakan tarian yang ada di film. Punya efek yang bagus, kan? Sama sich kek waktu saya nonton Street Dance 1, Bring It On, badan saya kadang suka terhentak-hentak gitu saking mengagguminya, hahaa... Go on and laugh it off :p
Tapi kayaknya bukan saya doank dech.

Rate 1 - 5 : 4

Good enough I guess :D

Friday, 17 August 2012

My Week With Marylin - Diary Movie Review

Petama-tama (tanpa r - so' imut), buat yang ga suka drama, tidak disarankan buat nonton film yang satu ini. Mungkin bakal dikomentari na'uzubilah boringnya, tapi buat yang suka drama, belom tentu juga suka nonton film ini. Hanya orang yang sabar yang mau nonton film sampe abis, yang bakal ngerasa kalo film ini sebenernya cukup layak ko buat ditonton. 

Tapi film ini, biarpun saya suka, ga saya saranin buat nonton di bioskop, cukup dvd ajah. Bahkan ketika beberapa kali saya mendatangi toko penjual dvd, saya lewatin film ini beberapa kali, sampai ada temen spesial saya bilang kalo ada Emma Watson di film itu. Ok, siapa yang ga suka Emma Watson? Rasanya banyak banget orang yang suka cewek pemeran Hermione Granger di film favorit saya tingkat dewa, Erny Potter. Ehm, maksud saya Harry Potter.

Jadi saya beli film ini. 

Yang menjadi tokoh utama difilm ini adalah Michelle Williams (remember Dawson Creek?) -  agak chubby dari sosok Marylin sebenarnya,  dan Eddie Redmayne, dan sayangnya, Emma Watson yang jelas-jelas namanya dipampang dicover dvd, cuman mampir difilm ini sebentar saja, mirip dengan tokoh pembantu. Waktunya yang cuman sedikit di film ini menurut saya menurunkan pamor Emma Watson, karena dia seperti ga ada apa-apanya didunia akting. Sukses besarnya berakting sebagai Hermione, terlupakan begitu saja. Tapi Emma Watson lagi syuting film baru, kita lihat seberapa hebat lagi dia.

Back to the topik saya bundar, film ini rada datar, tapi pas abis malah ada kesan yang tertinggal dibenak saya (preet). Kalo ditanya pilih yang mana sebagai pasangan, tentu saja saya lebih pilih Colin Clark (Eddie Redmayne) sebagai pasangan terakhir Marylin. Berati Eddie disini berhasil berakting, karena dia tampak melindungi, bingung pada awalnya, tapi secara jelas pelan-pelan mengalir mulai menyukai Marylin. Kenapa Colin bisa akhirnya naksir Marylin, padahal dia punya pacar cantik (Emma Watson)? Karena Marylin yang begitu menyerahkan diri pada Colin mungkin? Pembawaannya yang bertutur manja, sensual, lucu, dan memang menawan, meminta perlindungan, yang akhirnya bikin Colin menyayangi Marylin tanpa memandang statusnya sebagai super star.

Tapi saya ga tau apa kisah ini memang nyata apa ga, tapi Colin Clark itu memang ada. Berarti kisah ini nyata? Saya perlu browsing dulu kalau begitu. 
Kehidupan seorang Marylin Monroe adalah sebuah drama. Tahu sendiri kan, gimana akhir hidupnya Marylin? Menyedihkan. Jadi seperti saya bilang diatas, kalau mau nonton film ini, sabar ajah nonton sampai akhir. Ini film bisa dikatakan apresiasi untuk Marylin Monroe, jadi tidak mengejar kesuksesan yang wah.

Rate 1-5 : 2.5
(emang ada point dua setengah??)

Total Recall - Diary Movie Review

Why future? Kenapa masa depan?
Bayangin kalo film ini ngambil settingan normal, waktu sekarang, teknologi sekarang, kulkas jaman sekarang, mungkin cerita ini bakal biasa ajah sama ama cerita2 pengkhianatan/pengambilan kekuasaan/kudeta lainnya. Tapi film ini didesain sedemikian canggihnya, termasuk dari cara pelakon masup mobil (pengendara duduk dikursi yg nempel dipintu mobil, lalu otomatis dihantar kedalam). Semua serba canggih, tentu ajah wong settingannya masa depan, kecuali tempat tidur yang tetep begitu2 ajah, iyalah fungsinya kan cuman buat tidur, kaga mungkin tidur sambil nton ato browsing, jd gada teknologi2nya tuch tempat tidur.

Jadi dengan settingan masa depan, film ini jadi seru. Ide2 kreatif difilm ini bikin film ini geregetan. Si istri palsu itu juga keren bgt, saya lebih suka dy drpd cewek satunya lagi (lupa namanya, pokoknya yg punya luka sama ama si bogalakon). Dari mulai aksen inggrisnya, bodynya, cara berantemnya yang keren melebihi para cowok2 difilm2 itu, dan juga wajahnya yg cakep, ga bosen lihatnya, mirip nyokap, jiaaaaahahahaa..

Adegan yg dimaksud "recall" ini keitung cuman bentar, jd ga terlalu berkesan, tp memang "total" merubah seluruh hidup si bogalakon, tp kalo boleh komen sich, efek dr judul film masih kurang.


Ok juga buat ditonton 3D. Efek 3Dnya 'cukup'. Mungkin masih lebih banyak Amazing Spiderman efeknya karena dy yg terbang-bergelantungan digedung2 (ngemeng2, pernah ngebayangin si Peter Parker bunuh diri dgn cara menggantung dirinya sendiri pake jaring2 yg dihasilkan tangannya?)

Intinya campuran antara drama - aksi kelahi - asmara, cukuplah difilm ini, yg kerasa lebih menonjol tentu ajah setting 'masa depan' itu.


Ada kejadian sedikit memalukan waktu nonton film ini. Karena nontonya kemaleman (tapi bukan midnite), akhirnya babeh telepon. Ya Tuhaaan, kenapa suaranya bisa begitu nyaring sampai tetangga sebelah yang lagi asyik nonton kayaknya bisa denger.


"Va, kenapa belom pulang?"
"Iya, Pah. Bentar lagi pulang."
"Udah malem ini."
"Ya, Pah. Bentar lagi nich, nanggung."


T__T

Rate 1 - 5

Thursday, 9 August 2012

The Double - Diary Movie Review

Hadoooh...ini berdua paporit gue, apalagi Richard Gere. Falling in love with him ever since the "Pretty Woman", I mean..whos not? (falling in love with him after the movie).

Belum semua film Richard Gere saya tonton, tapi coba kalau ada, sebutin film dia dimana dia ga berakting dengan karakter kalem, karena disetiap film dia yang saya tonton, pasti ajah dia jadi pria kalem, tenang, cool.

Termasuk di film the Double ini. Kaga tahu dah Richard Gere ini jadi penjahat apa bogalakon (wow, istilahnya). Awalnya dia jadi penjahat, trus kalau ga salah nangkep cerita ini sich, dia ninggalin dunia bunuh membunuhnya (penjahat elit) dan jadi bogalakon alias polisi yang baik. Tapi dengan sisi2 jahatnya ini pun, Richard tetep berakting jadi pria yang kalem, dan tipe orang yang 'everything-is-under-control'.

Sebenernya saya nonton film ini agak kurang nangkep, jadi mending nonton 2x buat Anda2 yang tipenya lemot kek saya. Status film ini menurut saya ga apa buat ditonton dirumah (dvd - red), jadi mo nonton sampe ke 12x-nya pun no problemo.

Efek drama ; keakraban / keterkaitan batin antara Richard dan Topher Grace menurut saya juga kurang, padahal tambah dikiit ajah lagi, tapi teka-teki sebagaimana film detektif, di film ini saya bilang seru lah (pake lah?)

Ngemeng2, saya ngfans sama Topher Grace itu semenjak saya nonton That 70's show kocak, dan bahasanya gaul, hahahaaa....film lama sich. Film lain yang saya tahu dari Grace ini juga di Spiderman 3, yang jadi penjahatnya - spiderman hitam.

Kalo saya rate dari 1 - 5 : 3

Love it !

Thursday, 26 July 2012

Batman, The Dark Knight Rises - Diary Movie Review

Sebenernya nggak ada rencana nonton, bayangkan hari itu tanggal 26 Juli 2012, dompet otomatis kurus kering, tapi sang adik bagai setan bertopeng manusia menawari pinjaman 25.ooo buat tiket nonton Batman The Dark Knight Rises (but then dead, ha3). Jadi nontonlah saya sama si adik.

Film ini keren sich ya, makin sini kita makin terbiasa dengan aksi2 tegang dari filmnya Hollywood, dan film ini lumayan tegang. Cuman menurut saya - ya memang sich, namanya semua emang gada yg masuk akal ya, tapi yang emang sedikit kurang masuk akal, dan sedikit brutal. Kenapa dibilang brutal, karena ada unsur2 barbarnya ; perang. Perangnya ngambil sistim jaman dulu, dimana pasukan masing2 berkumpul, begitu ada tanda, langsung serbuuuuu! Wah banget sampe Gotham Citynya ancooor.

Film ini juga agak belok2 menurut saya sich, itu mungkin karena efek teka-teki dari film ini. Ada unsur timurnya juga (saya ga yakin itu timur, bagian yg penjara sumur itu, timur bukan sich?)

Kalau adik saya bilang, itu jubanya repot amat sich! Hahahahaaa.... pas berantem sama si Bane. Emang sich kesannya rese ya, tapi itu juga yang bikin gagahnya si Batman, well..we cant change what's already in comic, right? Haha...

Aktingnya si Kayle (Anna Hathaway) menurut saya ga maksimal lho, apa mungkin karena dia terlalu sering maen film drama, ya? Tokoh lain, saya suka Alfred, dia yg perlente, dia yg beraksen Inggris, dan yg menganggap Wayne lebih berharga daripada dirinya sendiri, kek seorang ayah banget, kan?

Sisanya, film ini pantas ditonton lha, pantas untuk mengorbankan beberapa hal, seperti mengorbankan diri buat minjem duit demi tiket bioskop, dan semacamnya lha. Asal jangan tembak2 orang ajah.